Foto oleh: Earl Wilcox via unsplash Aku mengenalnya sejak awal masuk kuliah hingga sekarang. Iya, dia adalah temanku. Awalnya biasa saja namun pada akhirnya aku jatuh hati. Entah memang jatuh hati atau karena simpati. Entahlah, aku mengaguminya. Barangkali, teman-teman dekatku sudah muak mendengarku. Pembahasan utama selalu dia. Seakan dia adalah pusat semesta duniaku. Sayangnya, hampir tiga tahun berjalan. Dia malah mencintai orang lain. Baginya aku hanya sekedar teman biasa. Ah, tak kutahu dia seterbuka itu ke semua orang. Dan aku bukanlah satu-satunya orang tempatnya berkeluh kesah. Aku merasa aku tak mengenalnya. Terlebih saat aku mengumpulkan keberanian menyatakan perasaan, dia hanya menganggapku bercanda. Sialnya, malah menyuruhku dekat dengan temannya. Percuma saja ratusan quotes , belasan puisi, dan beberapa cerpen kukarang untuknya. Sia-sia saja malam yang kuhabiskan untuk bercerita dengannya. Rasanya aku tak pernah patah hati sehebat ini. Walau setahun belakangan ini, rasaku ...