credit: therumpus.net via Pinterest
Hai, sepertinya aku sudah banyak ketinggalan menulis blog. Tanpa banyak berbasa-basi kali ini aku mau nulis tentang mental health issue. Belakangan ini rame banget bahas mental health issues. Kalau dipikir-pikir, pembahasan tentang mental health issues penting terlebih di pandemi saat ini. Terlebih karena banyak orang yang menanggap pembahasan tentang kesehatan mental itu enggak sepenting kesehatan fisik. Atau ada orang yang mau ke psikiater/psikolog dikira gila. Tetapi, sadar enggak sih kalau kesehatan mental itu berhubungan dengan kesehatan fisik.
Dengan kata lain, kalau mental kita sakit ya otomatis fisik kita juga ikut sakit. Hal itu menyebabkan kita terkena gangguan psikosomatik.
Gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang dipengaruhi
oleh pikiran. Simpelnya sih begitu. Gangguan psikosomatik bisa dialami siapa saja
baik itu tua ataupun muda. Gangguan psikosomatik biasanya muncul karena perasaan seperti takut, cemas,
depresi, stress dll.
Dilansir dari situs Alodokter, Berikut ini adalah beberapa gejala yang
mungkin muncul pada orang yang mengalami gangguan psikosomatik:
- Sakit
perut atau nyeri ulu hati
- Sakit
punggung
- Sakit
kepala
- Mudah
lelah
- Nyeri
otot
- Sesak
napas atau asma
- Nyeri
dada
- Jantung
berdebar kencang
- Telapak
tangan berkeringat
Apa yang terjadi di otak kita bisa mempengaruhi
tubuh kita. Jadi, enggak heran ada orang yang stres mengalami tegang leher,
atau mungkin sakit kepala atau bisa juga sakit lambung. Itu semua terjadi
karena ada keterkaitan antara fisik dan mental. Contohnya, ketika kita punya
masalah, otak kita akan bekerja lebih keras. Stres itu persepsi negatif,
persepsi negatif membuat otak bekerja keras untuk beradaptasi dengan persepsi
negatif itu.
Kok bisa sih stres bisa merusak tubuh kita? Hayo,
kenapa ya? Ternyata bukan karena kita stres namun karena reaksi kita terhadap
stres. Hal itulah yang membuat tubuh kita memproduksi zat. Tubuh kita
memproduksi adrenalin lalu adrenalin meningkatkan aliran darah(membuat jantung
berdebar lebih kencang dari biasanya). sehingga pembuluh darah menyempit dan
itulah yang menyebabkan kepala kita menjadi tegang. Adrenalin yang meningkat
ini bisa meningkatkan hormon stres(kortisol) apabila terjadi dalam jangka
panjang. Hormon kortisol ini bersifat merusak, ia bisa merusak apapun di tubuh
kita. Jadi, reaksi di tubuh tergantung berapa lama kita stres.
Berhubung stres bisa mempengaruhi
fisik kita.sudah sepantasnya kita menjaga kewarasan diri kita masing-masing
terlebih di masa pandemi seperti saat ini.
Disclaimer:
aku bukan mahasiswi psikologi/kedokteran jadi mungkin pembahasan ini perlu
referensi lebih lanjut. Tetapi aku menulis ini menyertakan referensi.
Referensi
Bab I buku Filosofi
Teras(wawancara dengan Dr. Andri SpKJ FAPM)
#30HARINGBLOG
#HARIKE14

Komentar
Posting Komentar