Langsung ke konten utama

Postingan

Cerita tahun ini: tentang teh

credit photo by Stacy Barnes on Unsplash Udah lama enggak menulis cerita di tahun ini. Soalnya banyak hal-hal yang terjadi di tahun ini. Salah satunya aku yang mencoba beberapa jenis teh di tahun ini. Aku juga gak menyangka kenapa malah sekarang lebih sering minum teh daripada susu. Padahal awalnya cuma coba-coba salah satu jenis teh. Eh, malah lanjut part sekian. Di tulisan kali ini, aku mau nyeritain rasa teh sekaligus cerita kok bisa sampai mencoba beberapa jenis teh. Semua itu bermula dari aku yang enggak sengaja melihat rak minuman di Indomaret. Aku melihat teh kotak berwarna kuning bergambar bunga, teh krisan. Aku langsung ingat dulu waktu kecil pernah minum teh krisan. Tetapi, aku gak sering beli lagi karena aku lebih suka susu.  Aku masih ingat rasa tehnya, manis campur segar. Soalnya dulu bos mamak sering kasih parsel pasti ada teh krisannya. Singkat cerita, aku sering beli teh krisan setiap ke Indomaret. Bahkan sedih kalau tehnya habis, soalnya udah terlanjur suka. Ter...
Postingan terbaru

Hal-hal yang aku temui di Twitter

       Belakangan hari ini aku membaca banyak tweet di twitter. Kebanyakan tentang hujatan dan juga fanwar antar fandom kpop. Sepintas kayak kurang kerjaan ya tetapi aku melihat pola interaksi disana. Aku jadi berpikir, ternyata tidak semua orang yang punya akun memakai akunnya dengan bijak. Dengan kemajuan teknologi kayak sekarang, harusnya media sosial digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat atau penghilang stress. Namun, ternyata tidak yang ada malah sebaliknya.      Seperti di Twitter, ada sebuah opini yang mungkin bagi sebagian kontra. Bukannya malah diingatkan tetapi malah dihujat habis-habisan. Bahkan parahnya dibully sampai tutup akun. Terlebih fans fanatik yang bar-bar. Kalau idolanya dihujat, mengerahkan massa untuk report ramai-ramai dan ujungnyayang dihujat tutup akun.   Bentar menghela nafas dulu..... Bentar nyusun kata-kata di kepalaku dulu....      Entah sejak kapan twitter jadi sarana untuk menyebar en...

Untuk Tasya (919 kata)

  CONGRATULATIONS FOR PASSING THE THESIS DEFENSE, TASYA! Ditulis oleh temanmu yang sering kamu panggil kawai Abstrak Tulisan ini sesuai permintaanmu sewaktu kita berfoto usai teman kesayanganmu sidang skripsi. Jadi, hanya inilah yang bisa kutulis. Tujuan tulisan ini sebagai hadiah sidangmu yang tak akan pernah rusak atau berkurang nilainya. Bahkan ketika kamu tua kamu tetap bisa membukanya kembali selama linknya masih ada di internet.   INTRODUCTION Teruntuk Tasya, temanku yang baik hati selamat ya sudah sidang skripsi. Mulai hari ini, kamu sudah bergelar sarjana pendidikan, walau belum resmi. Aku yakin jika kamu jadi guru pasti mengajarkan siswa cara berpikir kritis, tidak harus sepertimu mungkin juga bisa lebih darimu atau kurang. Seperti kata Khalil Gibran dalam bukunya The Prophet, “Guru yang berjalan dalam bayang-bayang pemujaan, di antara para pengikutnya, tidak membagikan kearifannya, tetapi keyakinan dan kecintaannya. Jika memang bijaksana, ia tidak akan memintamu mema...

Cerita LKTI

Foto di biro humas UINSU 2 bulan sudah berlalu sejak keberhasilan tim kami meraih bronze medal(medali perunggu) di ajang YISF. Izinkan aku menuliskan pengalaman berharga walau waktunya sudah terlalu jauh ke belakang. Bukan bermaksud pamer atau pun menyombongkan diri namun aku hanya ingin berbagi cerita. Tentu saja membuktikan bahwa lirik lagu milik Tulus ada benar nya, “Hari depan tak ada yang tahu,”. Dan memang benar tidak ada yang tahu hari depan kecuali Tuhan. Siang itu di bulan Februari,  pesan dari Fiza tiba-tiba masuk. Aku yang sudah lama tidak berkirim pesan dengan Fiza ,terkejut. Ada apa dia menghubungiku? Ternyata dia menawarkanku untuk ikut lomba Internasional. Aku pun menjadi ragu karena sadar Bahasa Inggrisku rata-rata. Takut juga mengecewakan harapan Fiza, terlebih Fiza sering mengikuti lomba penelitian. Kira-kira begini percakapannya (Sayang sekali pesannya sudah dihapus karena memori internal hpku penuh). “Mifta, mau join lomba LKTI internasional?” “Mau, ...

Mencoba sambat

 Sejujurnya susah untuk menulis apa yang aku rasakan selama 2021 kemarin. Capek aja gitu sampai gak bisa berkata-kata. Bangun tidur juga gak semangat. Mau ngapa-ngapain juga mager. Kayak enggak punya semangat hidup. Fisik sih enggak capek banget palingan capek karena kebanyakan rebahan. Toh, di rumah cuma ngerjain pekerjaan rumah, kuliah, sama ngurus kucing-kucing.  Lain halnya dengan batin, aku merasa agak bermasalah. Terlebih bentar lagi skripsian. Stuck nyari judul skripsi. Karena aku juga bingung mau neliti apa. Terlebih pendidikan, kecuali aku anak sastra mungkin bakalan neliti linguistik.  Semakin tua, semakin banyak pikiran. Kapan lulus? Kerja dimana? Cukup gak gajinya? Jodoh, maybe? Wah, gak sanggup dituntut ini itu dan segala kerumitan orang dewasa.  Walau kadang aku suka melarikan diri dengan baca Fanfiction AU, nonton anime, haluin husbu tapi senengnya bentaran aja. Ya ujungnya bakalan overthinking dengan pencapaian orang lain. Duh, enggak tahu cara menghi...

Hal Yang Disyukuri di 2021

Enggak terasa 2021 cepat berlalu, sekarang berganti 2022. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti ada rencana yang gagal. Semoga di tahun baru ini banyak berkah yang mendatangi kita. Aamiin. Jadi,aku mau menulis tentang hal-hal yang aku syukuri dari 2021 yang berlalu.salah satunya kesempatan diterima menjadi volunteer. Salah satu hal yang enggak berani aku ambil di tahun-tahun sebelumnya. Jadi, bulan Oktober 2021 lalu aku mendaftar volunteer mengajar Bahasa Inggris anak-anak secara online. Awalnya aku enggak yakin bakalan lulus, terlebih aku enggak punya pengalaman mengajar sama sekali. Aku sempat insecure karena kandidatnya banyak yang lebih jago dari aku. Mungkin memang takdirnya, akhirnya lulus jadi volunteer tiga bulan. Selama menjadi volunteer, aku banyak belajar bagaimana mengajari Bahasa Inggris anak-anak lewat zoom. Bukan hanya sekadar mengajari language skills ,tetapi juga belajar untuk ceria di depan anak-anak walaupun hari sedang suram-suramnya, belajar sabar karena anak-anak ...

Hingga Tahun Ketiga

Foto oleh: Earl Wilcox via unsplash Aku mengenalnya sejak awal masuk kuliah hingga sekarang. Iya, dia adalah temanku. Awalnya biasa saja namun pada akhirnya aku jatuh hati. Entah memang jatuh hati atau karena simpati. Entahlah, aku mengaguminya. Barangkali, teman-teman dekatku sudah muak mendengarku. Pembahasan utama selalu dia. Seakan dia adalah pusat semesta duniaku. Sayangnya, hampir tiga tahun berjalan. Dia malah mencintai orang lain. Baginya aku hanya sekedar teman biasa. Ah, tak kutahu dia seterbuka itu ke semua orang. Dan aku bukanlah satu-satunya orang tempatnya berkeluh kesah. Aku merasa aku tak mengenalnya. Terlebih saat aku mengumpulkan keberanian menyatakan perasaan, dia hanya menganggapku bercanda. Sialnya, malah menyuruhku dekat dengan temannya. Percuma saja ratusan quotes , belasan puisi, dan beberapa cerpen kukarang untuknya. Sia-sia saja malam yang kuhabiskan untuk bercerita dengannya. Rasanya aku tak pernah patah hati sehebat ini. Walau setahun belakangan ini, rasaku ...