Langsung ke konten utama

Keluh Kesah Tak Berfaedah

Baru saja potongan memori terlintas. Namun, bukan berarti aku ingin kembali ke masa itu. Mungkin, beberapa orang tahu aku pernah di fase friendzone. Uuh, sakit sih tapi ada hikmahnya. Tetapi, kita semua tahu jika jatuh cinta sepaket dengan rasa kecewa dan patah hati. Bukan patah hatinya yang harus disesali, tetapi hikmah apa yang harus kita petik dari episode patah hati kita. 

Kita semua pasti tahu kalau beberapa orang ditakdirkan Tuhan hanya beberapa episode dalam hidup kita. Kalau dulunya dekat dan sekarang udah jauh. Sederhana sih, episode dia dalam hidup kita sudah berakhir.

Aku mau cerita keluh kesahku malam ini. Aku bukan enggak bisa move on ya dari seseorang yang menurutku baik banget. Ada banyak hal yang membuatku tertarik dengannya seperti: dia itu misterius(aku jadi ingin memecahkan teka-teki mengapa dia misterius), dia jago main gitar(aku pernah minta dia nyanyiin lagu Amin Paling Serius), dia humoris, dia unik dan hal yang paling kusuka dia adalah pendengar yang baik.

Shit, susah menemukan orang yang bisa mendengarkan keluh kesah kita tanpa menghakimi. Kau tahu lah, banyak orang yang terobsesi dengan adu nasib. Walaupun tahu daya juang kita beda-beda. Enggak tahu kenapa orang suka adu nasib padahal enggak ada perlombaan apalagi hadiah. 

Kayaknya aku tahu, kenapa bisa senyaman itu. Jawabannya adalah percakapan tengah malam. Iya kami sering berdiskusi hingga tengah malam. Membicarakan banyak hal random. Gibah dosen, bahas jurusan, rencana masa depan, isu terkini, adu puisi dan lain-lainnya. Percakapan tengah malam yang jujur ditambah hanya dia yang selalu menjawab pesanku tepat waktu. Sudahlah, aku merasa kami sefrekuensi dan sepertinya dia cocok. Percakapan tengah malam itu harusnya sakral cuy. Enggak bisa untuk orang sembarangan kalau enggak mau berakhir dengan perasaan atau sesuatu yang tak kau inginkan. Percakapan tengah malam itu jujur karena suasana menjadi hening dan kita khusyuk menikmati momen. Ahh, seperti orang yang hopeless romantic ya.

Pada akhirnya, Tuhan mendekatkan kami sementara hanya untuk memberi pelajaran. Pada akhirnya, akan ada orang yang ditakdirkan untuk merubah kita meski tidak secara langsung. Pada akhirnya jatuh cinta sepaket dengan patah hati. Pada akhirnya, Tuhan memberiku kemampuan untuk memahami sesama. Pada akhirnya, aku harus menjadi pendengar yang baik dan tentu saja open-minded.


Sekian

*Hai, kalau kamu baca ini. Jangan kira aku belum move on ya. Aku baik-baik saja, tenanglah! Aku sedang sibuk jadi fangirl One Ok Rock.... hehehehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.