Langsung ke konten utama

Bukan Cerpen Romansa

 

 Sisi Hitam

Cerpen Oleh: Miftahul Zannah

Aulia terkagum-kagum pada sekolah barunya, sebuah sekolah swasta Islam di kotanya. Gedung-gedung bertingkat, dinding berwarna hijau, para siswi berjilbab panjang dan seperti nuansa pesantren. Sepertinya Aulia hanya tahu sisi indah dari sekolah barunya bukan sisi “Hitam Pekat” sekolahnya.  

Banyak kabar yang beredar, gedung yang sedang dikerjakan akan menjadi ruangan untuk jurusan Aulia. Beberapa pekerja bangunan tampak serius bekerja seperti biasanya. Jelas saja banyak siswa yang tidak sabar menempati gedung tersebut apalagi gedung tersebut arsitekturnya lebih baik dari gedung yang lama.

“Gak sabar aku menempati gedung itu” Aulia berbicara sendiri sambil menatap gedung yang dindingnya berwarna putih.

“Aku juga. Tapi, kata kakakku gedung ini punya rahasia” kata gadis di sampingnya berdiri

“Rahasia apa?” selidik Aulia

“Entahlah aku tidak tahu”

Mereka berkenalan lalu bercerita di bangku yang berada di dekat gedung itu. Ternyata mereka berbeda jurusan. Gadis itu bernama Ria, yang kakaknya adalah mantan kru jurnalistik di sekolah tersebut.  Gedung itu dibangun tiga bulan yang lalu sebelum kakak Ria tamat. Aulia diajak bergabung ke kru jurnalistik di sekolah tersebut. Aulia mengiyakan ajakan itu karena memang dia bercita-cita jadi jurnalis. “Mungkin ini kesempataan untuk belajar,” batinnya

****

Dua minggu setelah ujian masuk kru jurnalistik, mereka yang dinyatakan lulus langsung diamanahkan meliput sebuah berita oleh si ketua jurnalistik. Aulia terpelongo mendengar ucapan Kak Reinaldi, yang mana dia dan Ria harus mencari berita tentang gedung yang sudah mengrak seminggu itu.

“Kak, gak bisa meliput berita yang lain?”tanya Aulia

Reinaldi tampak berpikir untuk menjawabnya, dia menyunggingkan senyumnya. Mencari kalimat yang tepat namun singkat untuk menjawab pertanyaan junior nya itu.

“Bisa, tetapi tugas seorang jurnalis kan mencari berita yang sedang terjadi. Memangnya ada jurnalis mencari berita yang sedang tidak terjadi?”

“Tapi, kak....”

“Begini dik, Jurnalistik di sekolah ini butuh orang yang berkontribusi. Jika tidak ingin berkontribusi, kami tidak punya hak untuk menahan mereka tetap di klub ini. Kami tidak melarang jika mereka ingin keluar secara sukarela. Kamu bergabung di klub ini secara sukarela kan? Sudah tahu konsekuensinya kan?” jelas Reinaldi yang terkesan sarkastik.

Aulia tak bisa berkutik mendengar penjelasan Reinaldi yang menurutnya terlalu sarkastik padanya. Mau tidak mau, dia dan Ria harus mencari berita tersebut. Setelah keluar dari ruangan klub jurnalistik, wajahnya terus murung.

 “Aku gak tahu siapa yang akan jadi narasumber”

“Kita tanya saja guru-guru atau....”

“Hei, itu wakil kepala sekolah bagian sarana kan?” tanpa aba-aba Aulia langsung menarik tangan

Mereka mendatangi wakil kepala sekolah yang sedang duduk sendiri di kantin sekolah. Tanpa pikir panjang, mereka langsung meminta izin untuk menanyai perihal gedung mangkrak tersebut. Guratan wajah lelaki bertubuh gemuk itu tidak menyenangkan untuk dilihat.

“Kalau masalah gedung mangkrak, mohon maaf saya tidak tahu.”

“Bukannya bapak yang menangani sarana dan prasarana di sekolah ini, pak?”

“Iya,itu memang tugas saya. Tapi, saya memang tidak tahu menahu tentang hal itu,” jawabnya dengan nada yang sedikit meninggi.

Aulia dan Ria lalu pamit dan mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu. Tanpa mereka tahu, lelaki itu mengeluarkan ponsel untuk mengirim teks kepada kepala sekolah setelah mereka pergi. Menceritakan tentang klub jurnalistik yang mulai beraksi. Tidak ada kapoknya klub jurnalistik meskipun anggotanya banyak yang di drop out karena mengancam “keinginan” kepala sekolah dan sekawanannya. Bahkan kepala sekolah tak segan untuk menendang para guru yang tak patuh padanya. Sebuah ironi di sekolah bernuansa Islam, namun pejabatnya melanggar aturan Islam itu sendiri.

Kepala sekolah memutar otak untuk mempertahankan tahtanya dan juga menyembunyikan sisi hitamnya. Tak peduli dengan dosa, yang penting keinginannya terpenuhi. Perkara gedung mangkrak? Jelas bukan urusannya, yang penting uang mengalir deras ke kantongnya. Perutnya saja sudah kian membuncit memakan makanan nikmat dengan menyekik para siswanya. Lagipula, para siswanya hanya peduli prestasi akademik kecuali klub jurnalistik.

“Mereka masih berani ternyata mengorek sisi hitam sekolah ini”

“Iya pak. Tak takut mereka di dropout dari sekolah”

“Kita lihat saja, seberani apa mereka? Pantau terus mereka, jangan sampai mereka punya celah!”

“Baik pak, akan saya laksanakan”

“Lain kali kita bicarakan lagi. Tenanglah! Jika rahasia ini aman, saya akan transfer uang lebih ke rekeningmu”

*****

“Bagaimanapun kita harus cari narasumbernya.” Kata Reinaldi yang mulai geram atas laporan anggotanya yang masih nihil.

“Bagaimana kita tanya salah satu guru kak? Barangkali ada yang tahu” usul Ria

“Itu ide bagus, yang penting kalian dapat narasumbernya dan pastinya sesuai fakta yang terjadi.

*******

Tiga hari setelah berita gedung mangkrak ditempel di mading sekolah. Guru yang menjadi narasumber berita ditendang dari sekolah. Kepala sekolah mulai merasa terancam, dia semakin gusar dengan klub jurnalistik. dia berencana membubarkan klub tersebut dan memecat para anggota klub tersebut. Tentu saja, dia tak bekerja sendiri. Wakil kepala sekolah yang penjilat itu tentu saja akan membantu. Konsekuensinya, ia mau membantu asal mendapat transfer uang lebih dari kepala sekolah.

Reinaldi, Aulia, Ria dan semua anggota klub jurnalistik dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Klub jurnalistik mereka bubar dan mereka harus angkat kaki dari sekolah. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

*****

Sebulan setelah membereskan urusannya,dia tersenyum senang. Tak terkecuali wakil kepala sekolah yang mendapat transfer dari kepala sekolah. Uang itu diberi kepada istri dan anaknya dengan mengatakan uang tambahan dari kepala sekolah. Kesenangan mereka rupanya tak bertahan lama, tamu tak diundang datang ke rumah kepala sekolah.

“Selamat siang,pak! Dengan bapak Harianto?”

“Ya pak, saya sendiri”

“Anda kami tangkap atas kasus penggelapan uang”

Kepala sekolah tak bisa berkutik lagi. Sisi hitamnya telah terbongkar, reputasinya telah hancur begitupun dengan si wakil kepala sekolah. Mereka mendekam di bui karena uang yang tak seberapa itu namun malah menimbulkan bencana.

Seluruh anggota jurnalistik dan para guru yang pernah ditendang sangat senang dua pria berperut buncit itu mendekam di penjara. Seorang guru yang menjadi narasumber berita gedung mangkrak akhirnya terlepas dari sekolah terkutuk itu. 




*Ngomong-ngomong tulisan ini ditulis sebelum kabar rektor UIN yang waktu itu belum jadi tersangka kasus gedung mangkrak. Aku tahu tulisan ini enggak sebagus tulisan yang kalian baca di surat kabar. tetapi, ini sisi lain tulisanku selain tulisan romansa yang cringe. Selamat membaca dan jangan lupa kritik dan sarannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.