Langsung ke konten utama

Apa aku benar-benar mengenalmu?

Foto oleh: Eric Ward via unsplash

Bertahun-tahun aku mengagumimu. Aku kira aku benar-benar mengenalmu. Nyatanya, aku sebenarnya tidak tahu siapa dirimu. Memandang dari kejauhan atau sekedar basa-basi. Sisanya hanya bertukar pikiran lewat pesan singkat.

Aku merasa kita cocok dalam beberapa hal. Aku kira kita sehati nyatanya hanya obsesi. Obsesiku membuatku terbuai harapan. Menimbun ekspektasi yang kubuat sendiri. Sembari memberi sugesti diri bahwa kau merasakan hal yang sama.

Bertahun-tahun kuhabiskan mengagumimu. Memendam rasa yang acapkali buatku dilema. Semakin kucari tahu, semakin aku tak tahu. Apa benar aku mengenalmu? Bagaimana jika orang yang selama ini kukagumi bertahun-tahun bukanlah seperti ekspektasiku? Siapkah aku untuk kecewa?

Perasaan ini membuatku serba salah. Bagaimana jika kuutarakan malah membuat kita jauh? Sisi egoisku berkata aku tak siap kehilanganmu. Namun, jika terus kupendam hanya menyisakan tanya. Apa aku benar menyukaimu? Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta? Apa aku benar mengagumi seseorang yang hanya kutahu kulit luarnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.