Langsung ke konten utama

Hingga Tahun Ketiga

Foto oleh: Earl Wilcox via unsplash

Aku mengenalnya sejak awal masuk kuliah hingga sekarang. Iya, dia adalah temanku. Awalnya biasa saja namun pada akhirnya aku jatuh hati. Entah memang jatuh hati atau karena simpati. Entahlah, aku mengaguminya.

Barangkali, teman-teman dekatku sudah muak mendengarku. Pembahasan utama selalu dia. Seakan dia adalah pusat semesta duniaku.

Sayangnya, hampir tiga tahun berjalan. Dia malah mencintai orang lain. Baginya aku hanya sekedar teman biasa. Ah, tak kutahu dia seterbuka itu ke semua orang. Dan aku bukanlah satu-satunya orang tempatnya berkeluh kesah.

Aku merasa aku tak mengenalnya. Terlebih saat aku mengumpulkan keberanian menyatakan perasaan, dia hanya menganggapku bercanda. Sialnya, malah menyuruhku dekat dengan temannya.

Percuma saja ratusan quotes, belasan puisi, dan beberapa cerpen kukarang untuknya. Sia-sia saja malam yang kuhabiskan untuk bercerita dengannya. Rasanya aku tak pernah patah hati sehebat ini. Walau setahun belakangan ini, rasaku kian memudar. Namun, apalah daya nyatanya hati belum sepenuhnya rela.

Merasa tersakiti, seolah pernah memiliki. Merasa cocok, meski hanya berbicara lewat ponsel. Merasa kecewa padahal karena ekspektasi sendiri.

Dari patah hati kali ini aku belajar untuk lebih mencintai diri sendiri. Aku belajar untuk tak bereaksi berlebihan akan kebaikan seseorang. Aku belajar jangan beri seratus persen kepercayaan pada orang lain. Dah lah dari patah hati ini aku belajar ternyata aku kurang memahami diri sendiri.



Komentar

  1. seperti anda butuh pemeran utama laki-laki baru untuk cerpen anda hehe

    BalasHapus
  2. Wkwkwkwk kan ini lucu apa sedih si

    BalasHapus
  3. Tapi sekaligus nyesek juga 🤣

    BalasHapus
  4. Tersakiti oleh ekspektasi sendiri. Awalnya rasanya sakit sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih iya kak sakit kali dan malah menyalahkan diri sendiri😊

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.