Langsung ke konten utama

Hubungan Keluargaku baik-baik Saja, Tidak Ada Hal Istimewa


credit:pinterest


Hari ini aku mau menulis tentang hubunganku dengan keluargaku seperti tema di minggu ini. Hubunganku dengan keluargaku baik-baik saja. Sebenarnya aku kurang suka menulis atau membicarakan tentang keluargaku. Persoalan keluarga bagiku sangat personal, lebih baik disimpan. Tak jarang, kalau membahas tentang keluarga aku akan menangis dan aku benci kalau aku menangis. Bukan bermaksud memendam emosi negatif tetapi aku sulit menenangkan diri kalau sudah menangis, parahnya bisa enggak semangat berhari-hari. Iya, aku mencoba jujur di blog kali ini, sulit kayaknya. Aku beneran menangis loh menulis ini, kalian yang membaca jangan menangis ya soalnya aku enggak ada untuk menenangkan kalian wkwk.

Keluargaku sederhana, kami bukan orang kaya. Bisa dibilang kami cukup dan masih bisa berbagi ke orang lain. Mungkin ini yang disebut berkah, ya kan?  Sekarang keluargaku terdiri dari tiga orang: aku, mamakku dan adikku. Bapakku meninggal setahun lebih mungkin aku lupa, Agustus tahun lalu dipanggil Allah. meninggal karena komplikasi yang disebabkan oleh diabetes.

Mamakku adalah orang Jawa yang lahir di Jawa Tengah, pindah ke Riau dan akhirnya menua di Sumatera Utara. Kalau bapakku sih, Jawa yang lahir si Sumatera. Jadi, aku orang Jawa yang lahir di sumatera. Hanya tahu Bahasa Jawa Ngoko (kasar), tidak tahu Bahasa Jawa dengan tingkatan yang lebih tinggi. Tinggal di Sumatera, aku jadi tak punya logat jawa karena tak pernah digunakan. Aku berbicara Bahasa Indonesia di rumah, sekolah, kuliah dan dimana pun aku berada karena hanya itu Bahasa yang kukuasai. Aku mengerti orang-orang yang memakai Bahasa Jawa saat berbicara, tetapi aku tak bisa berbicara Bahasa Jawa dengan lancar. Bahkan aku sedikit tahu Bahasa Jawa Timur atau bahasa Jawa yang dipakai ustad-ustad Jawa untuk ceramah seperti Gus Baha, KH Anwar Yazid dll.

 Jangan ditanya lagi perasaanku  saat  bapakku meninggal, aku hampir gila saat perawat di rumah sakit berkata,”Eh, lewat”. Semester tiga IP ku turun enggak terlalu drastis sih tetapi punya efek yang luar biasa. Semester tiga aku kehilangan semangat hidup, kuliah, apalagi menulis ya kutinggalkan. Aku bahkan sering  menangis di kamar sendirian, aku bahkan sering bergadang karena tidak bisa tidur, lalu aku sering tidur di kelas, aku sering absen di kelas, aku sempat berpikir bunuh diri, aku sempat ingin jadi agnostik karena aku merasa doaku tidak terkabul, wah enggak tahu apa sih pikiranku waktu itu kalau enggak ada teman-temanku (Arizka, Hanum, Ifah dan seseorang yang tak bisa kutulis namanya walau sekarang hubungan kami renggang).


credit: pinterest

Tetapi, aku harus bertahan karena mamakku. Dengan kata lain kami saling menguatkan. Aku adalah alasan mamakku bisa bertahan untuk mencari uang, sedangkan aku bertahan karena dukungan mamakku. Aku jadi ingat, sewaktu kami tahu bapak meninggal di rumah sakit mamak memelukku berucap.”Kau harus tetap kuliah, walau bapak udah enggak ada. Mamak akan perjuangkan kau sampai sukses,”. Semenjak bapak meninggal, aku harus membiasakan diri dekat dan cerita sama mamak. Aku tuh anak bapak banget huhu.

Sejak kecil, aku merasa peran orang tuaku terbalik. Mamak yang mencari nafkah, almarhum bapak yang di rumah. Mamak adalah seorang karyawan PTPN, pergi pagi pulang sore bahkan kalau ada acara besar di tempat kerjanya enggak pulang ke rumah. Sudah biasa aku ditinggal, mungkin itu alasan kenapa aku tidak terlalu dekat dengan mamakku. Tetapi, bukan berarti mamakku enggak peduli loh ya. Dia peduli dengan caranya, menyiapkan masakan, kalau malam menonton tv bersama dneganku, mengajariku bagaimana sopan santun, orang yang membuatku suka membaca dan Bahasa Inggris, dan orang yang selalu menanamkan padaku perempuan itu harus berdikari. Tetapi, sekarang mmakku pulang siang enggak separah dulu kerjanya. Sedangkan almarhum bapakku dulunya pernah menjadi guru honorer sebelum aku lahir. Namun, memutuskan berhenti menjadi guru karena ingin mengurus  almarhum nenekku yang sakit. tapi, ada juga versi lain atas keluarnya bapakku dari sekolah tempatnya mengajar, bapakku enggak suka kebijakan di sekolah tersebut. lalu, aku lahir ke dunia setelah dua tahun mamak dan bapakku menikah. Sewaktu aku kecil, bapakku mengurus pekerjaan rumah seperti mencucui piring, menyapu rumah, menyapu halaman, menjemur pakaian, memasak nasi, memasak air, dsb. Pekerjaan rumah dibagi dua antara mamakku dan bapakku. Bapakku mengajariku bagaimana berpikir,  menulis, lagu-lagu dll. Aku suka membaca karena mamakku, suka menulis karena bapakku. Aku sedikit  tertutup seperti bapakku, berani seperti mamakku.

Waktu kecil aku mendengar musik yang bermacam-macam. Ada dangdut, kasidah, pop jadul, pop 2000an, batak, jawa dll. Bahkan kalau kalian tanyakan lagu dangdut mungkin aku tahu lirik, penyanyi dan judul lagunya tapi aku enggak bisa menyanyikan nya karena aku tidak menurunkan bakat menyanyi dari bapakku. Kalau referensi musik dari bapakku ada dangdut, kasidah, pop jadul, kadang lagu daerah. Lagu almarhum Didi Kempot, Sony Jos, dan penyanyi jawa dulunya itu kudengar tiap hari. Lagu dangdut yang dibawakan Rhoma Irama, Rita Sugiarto, Ikke Nurjannah, Kristina, Meggy Z, Tommy J Pisa, dan penyanyi lainnya lupa aku tuh udah enggak pernah dengerin dangdut lagi. bapakku adalah fans dangdut garis keras. Kalau pop jadul aku kurang tahu penyanyi nya padahal banyak banget kasetnya. Kalau mamakku punya selera musik yang lebih luas karena suka lagu Bahasa Inggris meski enggak terlalu hafal liriknya pasti tahu siapa yang nyanyi.

Mamakku punya hobi menonton film bergenre action, thriller, gore, perang, ya intinya bukan romance. Sedangkan aku enggak begitu suka menonton film. Waktu  kecil aku pernah menonton film barat di Globaltv(sekarang GTv), dari situ aku suka Bahasa Inggris dan melatih membaca cepat. Mamakku juga .mamakku memfilter mana yang boleh ditonton dan yang tidak. Aku masih ingat kami dulu sering menonton drama Taiwan di Daaitv. Meskipun menyisipkan ajaran agama Budha, namun drama nya menyisipkan ajaran moral. Kalau jujur nih ya, aku sedikit  suka ajaran welas asih dalam agama Budha tapi ya Islam juga punya ajaran kasih sayang yang lebih lengkap kan?  Enggak hanya menonton film, mamakku hobi membaca dan mendengarkan musik. Sedangkan bapakku punya hobi bernyanyi, menengarkan musik  dan mneulis. Jadi kalian bisa menilai pengaruh orang tuaku kental banget yang satu mempengaruhi membaca dan satu lagi menulis.

Dari kecil kau suka cerita ke almarhum bapakku, aku dibully, aku jatuh cinta, aku ngefans sama One Direction(sampai ditemani bergadang nonton One Direction), semua yang ada dipikiranku lah pokoknya termasuk tentang hidup, agama, dan cinta. Enggak tahu kenapa dulu kalau cerita ke mamak itu segan kayak berasa enggak bakal dapat respon yang diinginkan gitu. Mungkin juga karena gap yang jauh. Mamakku enggak tahu media sosial kayak almarhum bapakku, tetapi mamakku berwawasan luas karena sering membaca. Bapakku muda pernah ingin kuliah tetapi karena keterbatasan ekonomi terpaksa tinggal angan. Katanya kalau kuliah, mau ambil jurusan studi agama-agama, karena itu memang minatnya. Aku selalu suka dengan caranya mengajar, mau itu mengajar ngaji atau mengajar ilmu lainnya. Jadi,  aku kuliah dan jadi guru adalah estafet dari perjuangannya. Kita sebagai muslim tahu, kalau ilmu yang bermanfaat adalah amal yang tak terputus bahkan ketika kita meninggal dunia. Berhubung, kita manusia yang enggak tahu kapan akan meninggal menjadi guru adalah tabungan pahala jika niat dan sabar karena Allah.

Hubunganku dengan keluargaku baik-baik saja. Kami bersyukur hidup dengan cukup, bisa berbagi, bisa hidup dengan tenang. Aku baik-baik saja mamak dan adikku adalah tempat pulang bagiku. Surga kecilku di dunia. Aku berjuang bukan hanya untuk diriku sendiri tapi mamakku dan juga menjadi kakak idaman untuk adikku. Aku memang tertutup tapi aku selalu menuangkannya dalam tulisan dan percaya Allah adalah sebaik-baik sandaran.


credit:pinterest

 

Ngomong-ngomong, aku punya tulisan puisi almarhum bapakku masih muda tapi sepertinya itu kapan –kapan ya ku post.

#30HARINGBLOG

#BLOGJANUARI

#HARIKE6

#AKUBAIKBAIKSAJA

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.