Langsung ke konten utama

Teman di Rantau Part 2

 Ini bagian dua dari tulisan sebelumnya. Selain Arizka, aku puya beberapa teman lagi selama di Medan. Ada teman sekelas dan ada juga yang tidak. Mereka semua sudah dekat seperti saudara bagiku.

 1.  Hanum adalah manusia yang pakai baju selalu nabrak warna. Sedikit manja, sedikit petakilan, sedikit boros namun lembut hatinya. Kami sudah dekat sejak semester satu. Meski sekarang dia sudah tidak sekelas denganku lagi, namun dia masih sering main ke kosku.



2.  Hafsoh dia anak yang baik dan taat beragama. Dia selalu berkata baik, tak pernah mengumpat. namun, sering enggak percaya diri di kelas.



3. Ifah, anaknya super santuy kalau ngerjain tugas. Tim deadline garis keras. Puitis, sensitif, sedikit cerewet.



4. Mereka adalah dua kakak angkatku di Medan. Kami sering jalan-jalan bareng. Kak Rani (sebelah kiri) sering menginap di kosku. ada kejadian lucu sih sewaktu aku, kak Tia (yang tengah), aku, dan dua teman kak Rani lainnya ke bioskop unttuk menonton Joker.  Kak Tia hampir diusir karena badannya yang imut dikira anak SMP. wkkwkw aib banget.




6. Tasya, cewek independen, cerdas, logis, enggak bisa enggak kagum kalau sama dia. Partner diskusi walau kadang sulit mengkuti jalan pikirannya yang terlalu luas. kami dekat karena sama-sama Directioners (penggemar One Direction). Awalnya aku enggak menyangka bakalan nyambung sama dia karena parasnya sangar. Tapi, pas udah dekat enggak mau berhenti kalau ngobrol. She's an open-minded person, kalau punya opini beda aku enggak takut dihujat.


#30HARINGBLOG

#HARIKE13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.