Langsung ke konten utama

Cerita Kurang Referensi tentang Social Media Detox

 



credit pictures: pinterest

Belakangan ini kita pasti sering mendengar istilah social media detox entah itu di youtube atau di platform lainnya. Ngomong-ngomong social media detox itu apa? kenapa banyak orang yang melakukannya? Dan apa keuntungannya? Haha, awalnya aku juga bertanya begitu kepada diriku sendiri. Sampai enggak sengaja menonton sebuah video youtube yang tiba-tiba muncul di beranda. Lalu, kepo sama istilahnya dan melakukannya, kalau boleh pamer nih ya. Ini hari ke delapan aku enggak buka akun instagramku.

Singkatnya social media detox itu tidak menggunakan akun sosial media dengan jangka waktu tertentu. Kalau mau definisi yang lebih jelasnya bisa cek di Google. Social media detox ini bisa dilakukan selama seminggu, sebulan, setahun atau jangka waktu yang lebih lama lagi. Ada yang melakukannya karena coba-coba, ada juga yang karena merasa waktunya terbuang, ada juga yang melakukannya karena memiliki gangguan kecemasan seperti insecure, anxiety, self-comparison, overthinking, FOMO dan sebagianya, ada juga yang mencoba melakukan karena tren dan berbagai alasan lainnya.setiap orang yang melakukan social media detox punya alasannya masing-masing.

Kalau mau ngomongin keuntungan social media detox pasti ada keuntungannya. Perlu disebutkan gak nih? Perlu lah ya untuk memberi bukti wkwk. Menurut pendapatku dan yang ku baca dari artikel atau testimoni di youtube. Beberapa keuntungan dari social media detox diantaranya yaitu: mengurangi gangguan kecemasan, lebih menghargai kebersamaan di dunia nyata, lebih menghargai hidup, lebih produktif (tergantung), lebih tenang menjalani hidup dan  lain sebagainya.

Aku mau cerita sedikit  pengalamanku melakukan social media detox yang sudah berjalan selama delapan hari, rencanaku sebulan sih semoga saja. Meskpipun aku jarang mengunggah foto, aku termasuk kecanduan menggunakan instagram. Untuk sekedar melihat video singkat, foto artis favoritku, dan hal-hal lainnya yang cukup menyita waktuku. Terkadang tanpa sadar aku membuka instagram berjam-jam di pagi hari. Dimana pagi hari adalah waktu krusial untuk melakukan hal-hal yang penting seperti membersihkan rumah misalnya wkwk. Untuk melakukan social media detox, aku menghapus aplikasi instagramku. Hari-pertama sampai hari ketiga melakukan social media detox,  jari-jariku gatal meronta ingin membuka instagram. Pikiranku Cuma satu ingin membuka instagram namun sebisa mungkin kutahan. Ah, susah lah pokoknya. Tetapi, lama kelaman jadi terbiasa tanpa membuka media sosial. Kayak lebih menghargai hidup gitu. Insecure perlahan menghilang karena enggak melihat pencapaian orang di media sosial. Teman-teman dekatku pasti hafal banget curhatanku masalah insecure yang terus berulang.

Selain kecanduan Instagram, aku juga kecanduan Quora. Memang sih berguna banget Quora nambah ilmu wkwk. Apalgi yang menjawab pertnyaan orang yang kredibel, pakar di bidangnya. Tetapi, lama kelamaan lingkungan Quora itu enggak nyaman lagi. Banyak yang ribut karena beda pendapat padahal Quora itu terkenal media sosial paling open-minded menurutku. Orang yang beda pendapat bisa diskusi tanpa tersinggung. Tetapi itu sebelum negara api menyerang wkwk. Lagipula, kebijakan Quora lama kelamaan semakin enggak jelas dengan banyaknya pengguna yang tidak menggunakan nama asli, menggunakan nama anonim untuk menceritakan hal-hal dewasa yang enggak masuk di nalar, pernah juga waktu itu aku baca salah satu pengguna menggunakan akunnya untuk menipu, ada yang menggunakan akunnya untuk membuat keributan. Wah, aku pikir Quora juga sama seperti media sosial lain ada toxic nya juga. Pada akhirnya Quora pun kuhapus apliksinya  walau kadang rindu.

Kalau kita baca buku karangan Desi Anwar yang berjudul Going Offline, sosial media itu membuat kita menjadi kurang menghargai hidup. Di kata pengantar buku tersebut, Desi Anwar bilang,”Teknologi adalah budak yang dapat diandalkan, tetapi majikan nan keji”. Hufftt, menarik nafas ada benarnya juga tulisannya. Namun, sebenarnya kembali ke masing-masing pengguna media sosial. Jika, selama menggunakan media sosial mereka baik-baik saja ya lanjutkan. Namun, jika merasakan gejala FOMO, kecanduan, anxiety, insecure melihat pencapaian orang di media sosial, membanding-bandingkan diri sendri dengan yang ada di media sosial. Saatnya mencoba social media detox mungkin bisa beberapa hari seminggu atau sebulan.



Sejujurnya aku bingung mau menulis tentang social media detox, karena referensiku yang kurang. Namun menurutku bahasan ini seru dibahas. Kita hidup di dunia modern namun lebih mudah depresi. Kita merasa teknologi telah merampas kehidupan sosial kita. Singkatnya mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Kita menjadi manusia yang individualis, misalnya saat kita berkumpul dengan teman malah sibuk dengan ponsel masing-masing lalu mengunggah foto dengan caption,”Thanks for time blabla bla” padahal enggak seperti yang terlihat di foto. Ironi banget kan ya? Seolah ponsel lebih penting daripada wkatu seseorang yang terbuang percuma demi berkumpul. Contoh lain ada yang curhat setengah mampus tapi lawan bicaranya malah sibuk main sosial media.sumpah itu enggak menghargai banget, seolah kalo susah orang-orang dikenal di sosial media adalah orang yang bakal menolong.? Ya jelas enggak dong, bambang dan maemunah.

Udah lah yah gitu aja, kalau merasa media sosial enggak merugikan ya udah enggak usah nyoba social media detox. Kalau merasa media sosial memengaruhi mood coba lah. Kalau alasanku mencoba social media detox karena aku sering insecure, parah banget malah. Insecure karena pencapaian orang lain lalu self-comparison dan berakhir merasa gak berguna. Sekarang aku sadar membandingkan dirimu yang baru memulai dengan orang yang punya pencapaian itu enggak apple to apple. Start nya aja beda ya kali hasilnya sama. Bahkan yang punya start yang sama belum tentu hasilnya sama ya karena beda-beda cara start nya.

 

#30HARINGBLOG

#BLOGJANUARI

#HARIKE4

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.