Langsung ke konten utama

Aku dan Friendzone

    Friendzone. sebuah istilah yang dekat dengan anak muda baik itu remaja atau dewasa muda. Entah karena baca novel-novel young adult, entah gara-gara nonton film Thailand berjudul sama, atau gara-gara lagu mendengar lagu galau, atau karena merasa nyaman. Setiap orang pasti beda-beda penyebabnya. Paling kebanyakan sih karena nyaman, merasa cocok, merassa satu frekuensi dan boom merasakan sendirian. Enggak enak banget merasakan senidiran! Iya, memang enggak enak kok hiks hiks.

    Wikipedia bilang friendzone biasanya berkaitan erat dengan yang disebut nice guy syndrome atau sindrom lelaki baik.[1] Yang mana biasanya laki-laki merasa sudah melakukan yang terbaik untuk cewek incarannya. Si cowok berharap si cewek akan menerima cintanya atau membalas perasaanya karena sudah selalu ada untuk si cewek.  Sedangkan si cewek merasa si cowok memang baik ke semua orang. Selengkapnya bisa baca di wikipedia. Ah, lebih gampangnya friendzone itu kayak kisah Tom dan Summer di film 500 hundred days of summer. Ngena banget dong adegan saat Summer bilang enggak mau pacaran tapi malah nikah sama orang lain. itu karena Tom udah ngerasa Summer itu sempurna banget buat dia, tapi tidak dengan Summer yang sama sekali enggak yakin dengan Tom.

    Ternyata friendzone tidak hanya dialami cowok tetapi cewek juga. Cerita yang  setahun lebih belakangan ini hanya beberapa temanku yanga tahu.  Sekitar tahun 2019, aku berteman dekat dengan cowok. Meskipun, sebenarnya kami udah dekat sejak semester satu. Kami jadi bertambah dekat semenjak bapakku meninggal, hari itu dia mengirimkan pesan pribadi untuk Aku takkan menuliskan namanya, kelasnya, atau jurusannya mari kita sebut saja dia Z. Awalnya aku dan Z hanya mengirim chat biasa, berbagi cerita soal kuliah, diskusi dan terkadang aku meminta pendapatnya. Menurutku dia pendengar yang baik, wah naif sekali aku. Di kampus, kami jarang berbicara satu sama lain. Namun, di whtatsapp seolah orang yang satu frekuensi. Lama kelamaan, kami tak lagi membahas soal kuliah. Kami mulai membahas hal-hal pribadi seperti penyesalannya memilih jurusannya karena tuntutan orang tua, musik kesukaannya, dan lain-lain.

    Disitulah masalah dimulai, karena merasa sudah dekat gaya bahasa dan kata-kata yang dipilih jadi sembarangan. Bahkan kami diskusi hingga bergadang karena nyambung. Dia sering menemaniku mengerjakan tugas, bukan makna sebenarnya. Maksudnya, sembari aku mengerjakan tugas, kami chat sambil gibah dosen. Enggak punya akhlak memang. Saat aku tanya,”Kau enggak ngerjai tugas?”, dengan gampang dia menjawab,”Ah,gampang siapnya itu nanti,”. Dia terlalu santai masalah akademisnya bukan karena tidak serius kuliah tapi karena terpaksa kuliah. Saat sudah larut malam, dia selalu mengucapkan selamat malam, selamat tidur. Dasar aku gampang baper. Sejujurnya aku enggak suka menulis ini, merasa cringe dan buat jijik kayak alur novel alay di wattpad woy. Iya, sesingkat itu saja kuceritakan.

    Menurutku tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Apa untungnya saling menyalahkan? Apa untungnya membenci sesuatu atau seseorang karena tak sesuai ekspektasi?  Ada hikmah dibalik kejadian friendzone bahwa kita tak bisa mengontrol perasaan orang lain. Apa yang menurut kita terbaik, bisa saja bukan yang terbaik. Seperti quotes dari Adik Tom di film 500 days of summer,”Hanya karena dia menyukai hal yang sama denganmu bukan berarti dia belahan jiwamu,”. Kita tuh ya suka menghubungkan sesuatu yang berhubungan dengan orang yang kita suka padahal enggak ada kaitannya. Kita juga suka mengira-ngira apa yang dirasakannya. Kadangkala kehilangan diri sendiri seperti aku yang menyukai musik indie gara-gara si Z, belajar main gitar demi si Z.


 #30HARINGBLOG

#HARIKE8

 



[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Friend_zone&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.