Langsung ke konten utama

Pengalaman Puasa Tahun 2019

  
NB: Enggak punya gambar yang sesuai. Mau edit di Canva jaringannya lelet wkwk.

Sebelum aku bercerita, aku mau mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa untuk kita semua(yang menjalankan). Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih taat lagi, lebih ikhlas menjalani hidup, yang baik-baik lah pokoknya.

   Jadi ingat tahun 2019 silam, sewaktu puasa di kos. Itu pertama kalinya puasa enggak sama orang tua. Rasanya menyiapkan buka dan sahur itu wih mau nangis. Ditambah menahan rindu jauh dari keluarga. Memang sih, sahur dan berbuka ada yang menemani. Siapa lagi kalau bukan kakak-kakak yang tinggal di kos. Tetapi tetap aja rasanya beda lah.

    Ngomong-ngomong puasa di kos, aku dan kak Tia(Kawan satu kamar) enggak masak sahur. Kami berdua sahur dengan beli sayur di tempat langganan catering kami. Berdua jalan kaki dari kos ke tempat Bu Yani(Catering Langganan). Mengetik cerita ini kepikiran masakan Bu Yani wkwk. Yang banguni bukan mamak, tapi Alarm Hp. Ditambah beli bukaan sesuai budget.  Ya makanannya itu-itu ajalah.

 Aku juga punya pengalaman ngabuburit sama Hanum(kawan dekatku). Waktu itu kami ke kosnya untuk ngambil barang. Berhubung dia nginap sementara di kosku. Rupanya pas di jalan keburu azan magrib. Mau gak mau berhenti untuk buka. Kami terpaksa buka di Mesjid At-Tawwabin. Untung abis magrib masih ada angkot balik ke Lau Dendang.

 Begitulah pengalaman singkat puasa pertama jauh dari orang tua. Meskipun itu pengalaman dua tahun lalu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.