Hubungan “Abu-Abu” Laki-Laki dan Perempuan
Hubungan antara laki-laki dan perempuan
sebagai teman kebanyakan gagal. Tak jarang banyak yang patah hati karena rasa
nyaman dan ekspektasi. Semuanya kelihatan abu-abu antara teman atau lebih dari
teman. Namun, baik perempuan dan lelaki mengambil porsi yang sama dalam kasus
ini. Laki-laki suka berjanji sedangkan perempuan suka berekspektasi. Perempuan yang
terlanjur baper akan menganggap laki-laki sedang menarik ulur hatinya. Laki-laki
bahkan tidak tahu dimana letak kesalahannya. Baik laki-laki dan perempuan
saling menyalahkan. Laki-laki pasti akan menggunakan logikanya dalam hal ini. sedangkan Perempuan
akan terus menerus menggunakan perasaannya.
Meskipun perempuan menggunakan perasaan, bukan
berarti dia tak harus berpikir logis. Perempuan harus segera bangkit dari patah
hati dan menganalisis kenapa dia salah menjatuhkan hati. Bukan bermaksud
menyalahkan perempuan dalam hal ini, terkadang laki-laki tak bermaksud mempermainkan
hati perempuan dengan perhatiannya. Beberapa lelaki memang murni ingin
memberikan perhatian sebagai teman.
Jika pun disuruh memilih antara teman
perempuannya atau pacar, pasti mereka akan memilih teman perempuannya. Ketika
mereka memberikan panggilan khusus ke teman perempuannya, ya karena perempuan
itu dirasa sebagai teman terbaik. Saat dia bercerita masalah pribadinya, ya
karena dia percaya teman perempuannya pasti mengerti tentangnya. Saat dia
minta bantuan ya karena dia percaya meminta bantuan ke orang yang tepat. Saat
dia menasihati ya karena dia peduli sebagai teman. Saat dia mengucapkan selamat
ya karena dia mengapresiasi. Saat dia memuji ya memang punya niat untuk memuji.
Hanya saja, film, lagu, novel, dan masyarakat
mendoktrin alam bawah sadar secara tidak langsung. Dan kau pun termakan amunisi
mereka dan mulai menyalahkan laki-laki. Dia sudah bersikap baik, namun hatimu
terlalu mudah jatuh. Padahal dia tidak memberimu apa-apa kecuali rasa nyaman
sebagai teman. Apa yang bisa diharapkan setelah perasaan nyaman menimbulkan
ekspektasi berlebih? Yang ada hatimu terluka karena menanam asa padahal itu
mungkin hanya sebatas rasa. Hubunganmu dan dia semakin renggang dan kau pun
patah hati.
Kau membaca kutipan-kutipan atau
mendengarkan lagu-lagu patah hati. Kau kira itu terapi namun malah semakin
menyakiti diri sendiri. Kau semakin kacau saat dia perlahan menjauh. Tak ada
lagi obrolan singkat seperti biasanya, semua lenyap. Kau masih berharap dia punya
rasa yang sama, namun semua bukti terpampang nyata. Hanya kau yang memupuk dan
menghayal sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Tidak! Aku tidak menyalahkan kamu. Perasaan
jatuh cinta juga bukan keinginanmu kan? Cobalah perlahan mencintai diri sendiri
yang sudah berjuang selama hidupmu. Lihat kembali kedua orang tuamu. Atau kalau
kau mau yang lebih menyentuh hatimu,lihatlah para pengemis, anak jalanan dan
yang tak seberuntung dirimu. Atau mungkin kau bisa melihat alam sebagai guru
terbaik.
Setelah melewati fase patah hati yang
menyakitkan, kau perlahan bangkit. Dia mungkin tak sedekat denganmu dulu.
Namun, kau mencoba menyapa dan berteman kembali meski tak seperti dulu. Kau pun
mengerti bahwa ada saatnya perempuan dan laki-laki hanya punya chemistry sebagai teman atau saudara
yang tak sedarah. Kau pun menerima hal itu dan mulai menemukan prioritas baru.
Teruntuk semua perempuan yang pernah
patah hati karena ekspektasi, hubungan laki-laki dan perempuan memang selalu
abu-abu. Maka, dari itu kita harus berhati-hati atas setiap rasa yang menghampiri.
Setiap perhatian yang mereka (laki-laki) beri, siapa tahu mereka memberi
perhatian karena menganggap teman. Jika pun ada laki-laki yang mencintaimu
diam-diam, pasti dia tak banyak berkata. Tentunya dia akan membuktikan
ketulusan perasaannya.
Meski sulit, berusalah menjadi perempuan logis agar tak mudah memendam harap pada lelaki. Perempuan itu hebat dapat berdiri sendiri. Takdir yang tertulis adalah goresan indah dari yang Maha Kuasa untuk kita.
Catatan: tulisan ini tidak bermaksud menggurui hanya
sebuah tulisan terapi untuk diri sendiri. Jika pun bermanfaat bagi orang
lain, saya merasa senang.
Good article
BalasHapusThank you for your compliment😊
BalasHapus