Langsung ke konten utama

Skintone



Secuil Cerita Tentang Menerima Warna Kulit


Dulu saat aku SMP, aku ingin mengubah warna kulitku, karena tidak putih seperti yang lainnya. Aku mulai memakai hand body untuk memutihkan kulitku. Hasilnya, kulitku putih pucat. Ya, mungkin itu karena pengaruh iklan di televisi.  Atau doktrin di masyarakat yang mengatakan kulit putih itu cantik. Aku terdoktrin karena lingkungan dan media yang memengaruhi otak ku. Aku sedikit merasa insecure jika kulit temanku lebih putih dariku. Sebaliknya, aku merasa senang jika kulit temanku lebih gelap dariku. Betapa mudahnya aku terpengaruh waktu itu.

Saat aku SMK, aku mulai malas memakai body lotion ya karena kau berpikir tidak berpengaruh. Kulitku tetap tidak putih, padahal aku telah memakainya setiap hari. Mungkin karena aku pulang saat siang terik. Banyak yang berkata, “Kok tambah hitam?”. ,”Pakai hand body ini bla bla bla”, tapi untungnya saat aku SMK, teman sekelasku tak peduli masalah penampilan. Masa SMK adalah masa terbaikku dalam penerimaan diri. Setidaknya aku tidak merasa minder karena kulitku tidak putih.

Selepas tamat SMK, aku pun mulai minder lagi. Adaptasi ke lingkungan SMK dan kuliah jauh sekali perbedaanya. Terlebih setiap pulang kampung banyak omongan yang mengarah body shamming.

Semester tiga aku mulai menyadari inilah kulitku, pemberian Tuhan. Kusyukuri itu, kelihatan eksotis karena terpaan sinar matahari. Bukannya orang Indonesia memang berkulit eksotis?

Tidak berkulit putih bukan berarti tidak cantik, tetap cantik dengan caranya sendiri. Jangan minder dengan yang berkulit putih, dan jangan menjatuhkan yang berkulit putih. Warna kulitmu identitasmu, jangan dirubah hanya untuk menyenangkan mata orang lain.

Berharap iklan kecantikan tidak lagi menetapkan putih  itu standar cantik. Agar semakin banyak perempuan yang mensyukuri warna kulitnya. Bukan hanya ingin mencari keuntungan dengan pencapaian statistik penjualan yang tinggi. Namun, membunuh kepercayaan diri banyak perempuan yang tidak berkulit putih.

Sekian bacotan saya yang berkulit tidak putih.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.