Langsung ke konten utama

Mencoba sambat

 Sejujurnya susah untuk menulis apa yang aku rasakan selama 2021 kemarin. Capek aja gitu sampai gak bisa berkata-kata. Bangun tidur juga gak semangat. Mau ngapa-ngapain juga mager. Kayak enggak punya semangat hidup.

Fisik sih enggak capek banget palingan capek karena kebanyakan rebahan. Toh, di rumah cuma ngerjain pekerjaan rumah, kuliah, sama ngurus kucing-kucing. 

Lain halnya dengan batin, aku merasa agak bermasalah. Terlebih bentar lagi skripsian. Stuck nyari judul skripsi. Karena aku juga bingung mau neliti apa. Terlebih pendidikan, kecuali aku anak sastra mungkin bakalan neliti linguistik. 

Semakin tua, semakin banyak pikiran. Kapan lulus? Kerja dimana? Cukup gak gajinya? Jodoh, maybe? Wah, gak sanggup dituntut ini itu dan segala kerumitan orang dewasa. 

Walau kadang aku suka melarikan diri dengan baca Fanfiction AU, nonton anime, haluin husbu tapi senengnya bentaran aja. Ya ujungnya bakalan overthinking dengan pencapaian orang lain. Duh, enggak tahu cara menghilangkan insecure gimana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.