Langsung ke konten utama

Cerita LKTI

Foto di biro humas UINSU


2 bulan sudah berlalu sejak keberhasilan tim kami meraih bronze medal(medali perunggu) di ajang YISF. Izinkan aku menuliskan pengalaman berharga walau waktunya sudah terlalu jauh ke belakang. Bukan bermaksud pamer atau pun menyombongkan diri namun aku hanya ingin berbagi cerita. Tentu saja membuktikan bahwa lirik lagu milik Tulus ada benar nya, “Hari depan tak ada yang tahu,”. Dan memang benar tidak ada yang tahu hari depan kecuali Tuhan.


Siang itu di bulan Februari,  pesan dari Fiza tiba-tiba masuk. Aku yang sudah lama tidak berkirim pesan dengan Fiza ,terkejut. Ada apa dia menghubungiku? Ternyata dia menawarkanku untuk ikut lomba Internasional. Aku pun menjadi ragu karena sadar Bahasa Inggrisku rata-rata. Takut juga mengecewakan harapan Fiza, terlebih Fiza sering mengikuti lomba penelitian. Kira-kira begini percakapannya (Sayang sekali pesannya sudah dihapus karena memori internal hpku penuh).


“Mifta, mau join lomba LKTI internasional?”


“Mau, Za. Cuma,Bahasa Inggrisku gak terlalu bagus,”


Fiza meyakinkanku untuk mengikuti lomba, aku pun menjadi bimbang. Sampai akhirnya dia mengatakan mencoba itu lebih baik. dia juga mencari orang yang komitmen karena persiapan lombanya juga memakan waktu sebulan. Setelah memantapkan hatiku,aku menyetujui saran Fiza.kalau dipikir-pikir walaupun aku orang yang mudah bosan, kalau disuruh komitmen aku bakal komitmen kok. Apalagi ini kesempatan besar mengikuti lomba LKTI.


Tak berapa lama Fiza memasukkanku ke grup whatsapp bergabung dengan anggota tim lainnya. lalu, kami membahas dana registrasi lomba dan tugas. Bahas syarat registrasi juga kayak fotonya biar seragam pake hijab apa. data berupa foto dan sertifikat prestasi dikumpul di google drive. Sedikit plot twist ternyata 2 juniorku berada di tim yang sama denganku. Selama ini kami hanya kenal lewat zoom komunitas Bahasa Inggris. jadi, kami hanya kenal sebatas nama. Ya, mereka adalah Liza dan Weni.


*****


Hampir tiap hari grupnya aktif, perihal membahas dana registrasi yang mepet deadline pembayaran. Lalu, fiza mengirimkan LOA tanda bahwa judul kami disetujui pihak panitia. Langkah selanjutnya menerjemahkan paper dan membuat presentasi. Berhubung penelitian sudah dilakukan oleh Fiza dan temannya, selaku anak Tadris biologi. Tugas kami tentu saja menerjemahkan paper yang sudah dikerjakan oleh Fiza dan membuat presentasi dari hasil yang sudah ada di paper.Kami juga membahas kapan kami berjumpa untuk membahas pembagian tugas dan tempat berkumpul sewaktu lomba. 


*****


8 Maret, kami sepakat berjumpa. Katanya sih jam 10 tapi ternyata ngaret. Aku sampai bolak-balik naik turun tangga gedung baru tarbiyah. Sementara Liza dan Weni belum hadir. Kebingungan diperparah dengan sinyal UINSU yang kurang mendukung. Saat aku kebingungan, gak sengaja jumpa Liza yang jalan sendirian. Awalnya aku ragu mau nyapa,tapi siapa aja lah batinku.


“Adek Liza kan?”


“Iya kak. Kakak kak Miftah ya?”


“Iya,”


“Yok kak, udah ditunggu Weta,” kesan pertamaku tentang Liza, sopan sekali juniorku.


Aku membatin siapa pulak si Weta ini? Lah, rupanya si Weni. Dia sudah menunggu di depan lantai 1 gedung baru Tarbiyah memakai jilbab merah. Kesan pertamaku tentu saja anak ini kenapa mukanya sangar gini? Tapi ya udahlah kami bertiga naik ke lantai 2 gedung tarbiyah dan ketemu s Fiza. Lalu kami memutuskan untuk berkumpul di mesjid sembari menunggu Muhajir, si anak IT salah jurusan.


Sesampainya di masjid, kami masih menunggu Muhajir. Dia paling lama nyampe. Ya udah kami membahas masalah teknis. Aku,Liza dan Weni agak terkejut ketika Fiza bilang dia gak bisa ikut sewaktu presentasi. 


“Hah? Jadi kami dilepas gitu kak?” Weni bertanya.


“Iya guys, kek mana ya ini karena udah dibayarin. Kan gak enak kalo gak ikut,”


Jadi, si Fiza ikut dua lomba LKTI. Yang offline dan online. Yang offline dilaksanakan di Semarang makanya mau gak mau dia harus berangkat ke Semarang karena sudah dibayar pihak jurusan atau kampus (aku lupa). Presentasi diserahkan ke kami bertiga selaku anak Tadris Bahasa Inggris dan tentu saja Muhajir jadi operator. Btw, Muhajir ini sekelas Fiza tapi jago urusan IT.


Aku,Liza dan Weni kebagian menerjemahkan paper dan membuat presentasi. Liza berbaik hati membuat presentasi. Kami bertiga membuat  grup baru membagi bagian paper untuk diterjemahkan. Membuat presentasi kayaknya menantang bagi Liza, menyingkat isi paper jadi presentasi lumayan susah.Menerjemahkan paper ke dalam Bahasa Inggris juga gak kalah menantang. Karena banyak istilah ilmiah biologi yang sama sekali nggak familiar bagi anak Tadris Bahasa Inggris. mana tahu kami apa itu screening fitokimia dan istilah lainnya. walau demikian aku bersyukur, ilmu ESP(English for specific purpose) kepake juga.  Karena istilah ilmiah tersebut, kami harus bolak-balik cek google padanan Bahasa Inggrisnya. Sejujurnya, kami menerjemahkan paper dan membuat presentasi lumayan mepet. Iya karena semua punya urusan masing-masing.


Berhubung Fiza tidak di kosnya sewaktu lomba berlangsung, kami menghubungi adik Fiza. Aku dan Liza melihat kosan Fiza sebelum lomba.


******


Tiba hari perlombaan, aku sedikit overthinking. Aku sengaja menginap di kosan Weni agar bisa bareng ke kosan Fiza. Karena segan, sewaktu kami sampai kami menelpon adik Fiza. Adik Fiza mempersilahkan kami masuk ke kamarnya.Kami tiba kira-kira sejam sebelum lomba dimulai. Kami mengecek perlengkapan laptop dan jaringan. Lalu,kami masuk ke link zoom yang sudah dibagikan. Syukurlah, kami sempat membaca materi. Karena jujur, kami tidak ada persiapan sama sekali.


Tibalah giliran kami, di room 6. Entah kenapa kami masuk room zoom lebih cepat dari jadwal. Kami yang sudah invited to the room ya presentasi. Kami menggunakan 2 laptop. 1 laptop Muhajir sebagai operator dan kami bertiga menggunakan laptop Liza. Semua aman sampai pada tanya jawab. Aku dan Weni yang kebingungan langsung diatasi oleh Liza. Yah, berhubung dia sering ikut lomba debat, pasti dia tahu cara menggunakan kalimat persuasif. Sejujurnya aku agak susah menjelaskan secara detail kayak ini gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tetapi kalau diingat, rasanya masih sama. Hah kek gitulah, kayak Taki dan Mitsuha yang ketemu lagi setelah pisah di anime Kimi no Nawa.


*****


Tiba waktu pengumuman. Sumpah itu lama banget sampai Weni ketiduran nungguinnya. Kami sudah pesimis tidak akan menang. Ternyata Tuhan punya rencana yang indah sekitar jam 22.00 kami tahu kalau kami mendapat bronze medal. Awalnya kami kesal karena acara awardnya lelet. Ya, aku dan Weni menonton pengumuman di youtube. Fiza yang masih di Semarang mengirim foto  ke grup kami bahwa kami menang bronze medal. Fiza dan timnya jug amenang gold medal mewakili UINSU. Gila sih itu kayak sesuatu yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.


***** 


Ya begitulah ceritanya, agak susah menceritakan semuanya secara detail dan jelas. kalau mau cerita pahitnya,sejujurnya sewaktu registrasi uangku udah ngepas kali. Sampai aku minjam duit kawanku. Makan di kantin pun dibayarin. Menerjemahkannya pun sampai salah bagian, bagian Weni malah kuterjemahkan. Mana membuat bagan lagi, aduh gak ngerti lagi. Tapi, alhamdulillah ini pengalaman pertama bagi aku, Liza dan Weni. Kadang aku mikir, gimana ya kalau aku tolak ajakan Fiza waktu itu? Memang hari depan tidak ada yang tahu ya?

Komentar

  1. Keren Mif...πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘
    So Proud of You
    Senang juga bisa menyaksikan sendiri perjuangan mu saat itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo, ka. Sampai minjam uangmu aku kan. Nginep di kosmu juga pas nerjemahin paperπŸ˜‚

      Hapus
  2. It's amazing, Mz. After reading your story I can be interested to try writing. Can you help me to write my story?πŸ˜ƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks kak Yua. Of course, I'll help you.

      Hapus
  3. Such a cool experience ✨πŸ”₯

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Baik Tak Berbalas

Foto oleh David Alberto Carmona Hidup ini tidak adil, katamu. Iya aku tak bisa menyangkal kalau itu pendapatmu. Kau bebas berpendapat. Toh, nyatanya adil menurut manusia berbeda dengan adil definisi Tuhan. Akhir-akhir ini kau merasa lelah. Berbuat baik dengan ikhlas nyatanya tak berbalas. Memang sih kita tak boleh mengharap orang lain membalas kebaikan kita. Tetapi, ketika kita berbuat baik tidak dibalas itu meninggalkan rasa sakit. Ada rasa kecewa gitu kayak," Kok enggak bisa gantian ya? Kan aku enggak minta berlebihan,". Ingin memaki dalam hati rasanya. Nyatanya kita tak bisa mengharapkan semua manusia yang kita tolong akan menolong balik. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan kita berbalas. Kita tak bisa menuntut cinta dari orang yang kita cintai diam-diam *out of topic*. Tapi ya tapi kita bisa melatih diri kita untuk Ikhlas hanya mengharap Rido Tuhan. Ya biar enggak kecewa-kecewa banget kalau nyatanya enggak berbalas. Ya barangkali Tuhan memang tahu kamu sebaik itu. Jadi ...

Sama Tapi Tak Bersama

Tanpa terasa (hampir) tiga tahun sudah berlalu. Tentu saja, aku sudah semester enam sekarang. Aku akhirnya lega, aku mengatakannya. Sesuatu yang selama ini sesakkan dada. Meski akhirnya dianggap bercanda. Dia tak percaya, aku menyimpan rasa. Entah karena tandanya tak terlihat jelas, atau dia yang tahu tetapi malah abai. Nyatanya dia malah ingin mendekatkanku dan temannya. Mungkin dia salah paham. Tiga tahun aku dapat apa? Selain bilur yang menjalar di batinku. Dia yang aku kira punya banyak kesamaan akan bersama. Nyatanya, aku hanya mengenal kulit luarnya. Aku kira aku cukup mengenalnya, rupanya aku benar-benar tak mengenalnya. Meski hampir setiap hari bertatap muka dan hanpir setiap hari bertukar pesan. Statusku hanya teman, jika pun naik level hanya jadi teman dekat. Patah hati kali ini mengajarkanku pentingnya mencintai diri sendiri. Melihat ke dalam diri jika ada banyak hal yang membuatku bahagia. Patah hati kali ini membuatku semakin mengerti arti hidup. #hukumankawala...

Semua manusia punya celah untuk salah

Sembari menulis sembari merenung dosa-dosa saya yang enggak bisa dituliskan disini. Bukan karena sok pencitraan namun kita semua tahu bahwa aib harus ditutup. Bukan begitu teman? Semua manusia pasti punya celah untuk berbuat salah. Namun, dari situ kita belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menyempurnakan akhlak agar baik di hadapanNya.